Untukku-mu
yah, keberanian itu impian bagi tiap orang2 yang merasa dirinya harus lebih berbeda dari sekarang dalam segala konteks, termasuk berani melakukan hal2 yang menyimpang dari naluri mereka. namu ada juga hal positif dari keberanian untuk tetap diperjuangkan, termasuk keberanian melakukan ketakutan yang tak beralasan bagi makhluk logis, manusia.
takut yang tak beralasan sering dihubungkan dengan fobia, tapi rasa ini sepertinya jauh dari fobia itu sendiri, karena ini merupakan pertimbangan non logis yang terus diupayakan untuk tetap dalam koridor idealisme. konkritnya saya mau bercerita tentang cinta.
pertama, ada yang terlalu kebablasan dengan keberanian dalam mengutarakan cinta, sampai2 saat menjumpai sosok yang dikagumi, butiran kata yang dirangkai seindah mungkin menjadi rayuan yang mematikan kata 'menolak' pun terucapkan. alhasil, lawan jeneis tersebut langsung jatuh ke perangkapnya.
kedua, ada juga yang sangat berhati2 sehingga tidak sembarang kata rayuan yang keluar dari mulutnya.
ketiga, keinginan yang teramat kuat hanya tertanam di hati, dengan segala upaya dan kemampuan sering dicoba untuk dituangkan dengan kata2.
saya mau bercerita tentang hal yang ketiga, peribadi ini sangat pelik, bener, pelik sekali. dia punya nalar dan pola pikir yang terkesan berbeda dengan pola pikir pada umumnya dalam hal ini. sampai2 ada yang mengatakan, 'kau ini aneh'.... yah, aneh dan sangat aneh bagi yang tak mampu menyelami pertimbangan-demi pertimbangan yang ia bangun.
tapi keberanian spontan hadir ditengah kegalauan yang timbul dari cemoohan kata pelik dan aneh. ini pertama kali mengutarakan cinta pada seorang gadis yang ia kenal dalam kurun waktu sebulan, entah pertimbangan apa yang ia buat untuk merealisasikan keinginannya itu.
ia memulai menyusun kata demi kata dalam benaknya yang dituangkan dalam bentuk pesan singkat, kejujuran dalam hati mulai terkuak saat ia membawa diri bersama teman2 ke pulau Dewata (Bali). Kereta perjanan pulang dari Bali ke Kediri menjadi saksi bisu dari sekian teks SMS yang dirangkai. pembicaraan melalui pesan singkat tersubut terksan menggantung, karena jawaban pamungkas selalu dilimpahkan pada sang pencipta.
saat tatapan mata, lidah ini seolah menjadi kaku seperti habis dibius. tidak lagi kata2 jujur yang keluar, melainkan kata yang sengaja dibuat2 menyeuaikan kondisi dan keadaan. maafkan atas ketidakjujuranya saat itu.
tapi yakinlah, kejujuran itu masih tersimpan rapih sampai saat ini, namun ada satu hal yang sangat mengusik dalam pikiran mengenai seseorang yang sering menulis kata2 penuh makna di dinding jejaring sosial milik wanita idamannya. ia menjadi ragu untuk terus mempertahankan kejujuran ini, bukan karena mengalah atau merasa kalah, tapi lebih pada mengedepankan kebahagiaan wanita idaman itu. barangkali dia lelaki yang pantas mendampinginya.
kini, kejujuran itu mulai dikikis supaya menjadi sirna, namu goresan luka tetap terasa dan membekas. namu ia tak begitu peduli tentang itu, karena cinta itu dibangun bukan sekedar mengagumi atau mengidola yang berlebihan, tapi lebih pada sarana untuk lebih dekat pada sang kholik.
apapun bentuk warna dan rasa yang dialami, namun tetap menjunjung tinggi nilai ukhuwah, walau hanya menyapa dengan kata 'Assalamualaikum' lantas dijawab dengan 'Waalaikumsalam' lalu dilanjut dengan dialog singkat melalui jejaring sosial, seolah rasa cinta tak pernah terbangun sebelumnya.
sebetulnya ini kisahku, tentangku, pribadiku yang tak layak dikonsumsi orang, tapi setidaknya saya belajar untuk jujur dengan realitas yang saya hadapi.
Terimakasih.

09.59
rifandi.id


0 komentar:
Posting Komentar